Jangan Ngandelin Manusia, Mereka Tukang Bohong
Pelajaran Seminggu.
Minggu ini adalah minggu perdana sang Oktober.
Minggu-minggu yang dipenuhi aliran-aliran pikiran positif yang menyenangkan. Dimulai dari senin yang tanpa jadwal kuliah. Dilanjut dengan selasa yang penuh bahagia menghadapi kelas Bu Ira. Rabu yang diisi dengan lakunya Jilbab jualan. Kamis diisi dengan berjalan beriringan lima menit bersama Farris. Jumat ditutup dengan diskusi angkatan yang menyenangkan dan adik-adik menggemaskan. dan Sabtu yang penuh warna. \(^^)/
(Foto: I Whale Always Love You. diselesaikan pada Hari Sabtu, 8 Oktober 2016 Pukul 10.22 WIB)
(Foto: Deer You. diselesaikan pada Hari Sabtu, 8 Oktober 2016 Pukul 11.36 WIB)
Sabtu dalam Kontrakan
Sabtu. Jam kuliah kosong. Pagi dimulai dari jam setengah delapan, tepat di detik seratus dua puluh lima ketika Risma dan Defi (teman sekontrakan) teriak kompak-an. Ada tikus mati kekenyangan minum air di ember penampung air di kamar mandi kontrakan. Kontrakan makin gempar ketika perut mereka makin mules tapi ga berani buang mayat dari ember. Jadi lah pagi ini dimulai dengan olahraga angkat ember besar dengan air terisi setengah ke selokan depan rumah. Kegiatan selanjutnya dimulai dengan aktifin paket data di hape, membuka pemberitahuan. Di group tugas kuliah si Ado gempal laporan bahwa dia udah kasih bahan makalah untuk tugas selasa minggu depan, jadilah dilanjutkan dengan buka laptop dengan muka ileran. Download bahan, nyatuin sama yang sebelumnya, lanjut browsing sampe sekitar jam sebelasan. Di jam yang sama Defi ganti baju, terenduslah bau "dia ingin pergi keluar beli sarapan", secepat kilat uang sepuluh ribuan nyamper "titip bubur ayam di pertigaan depan". Lima belas menit kemudian 'sarapan' datang dengan uap panas menggoda. Setelahnya kegiatan berlangsung di hadapan laptop, nyaris seharian. Streaming drama, buka makalah, tutup lagi, buka lagi, tutup lagi, pegang hape, buka instagram, scroll-scroll, tutup instagram, buka line, scroll-scroll, tutup line, buka instagram, scroll-scroll, tutup instagram, buka line, scroll-scroll, tutup line, buka instagram, scroll-scroll, tutup instagram, buka line, scroll-scroll, tutup line, buka instagram, scroll-scroll, tutup instagram, buka line, scroll-scroll, tutup line, buka instagram, scroll-scroll, tutup instagram, buka line, scroll-scroll, tutup line sampe ngantuk dan memutuskan untuk bobo bentar. 1000 tahun kemudian, baru bangun lagi, panas, matahari sirik seharian. Sekitar jam satu-an pergi mandi sampe keriput, karena diluar panasnya ga nahan. Setelah mandi aktivitas buka tutup line dan instagram masih berlangsung, sekitar jam tiga-an memutuskan untuk titip makan sama Risma yang kebetulan lagi dijalan pulang dari Perpustakaan. Jadilah seharian cuma guling-guling di kasur kontrakan. Sangat berfaedah.
#WritingChalengge #DAY1
#WritingChalengge #DAY1
Harta Warisan Paling Berharga
Pada 30 Maret tahun 1995 untuk pertama kalinya orang-orang mulai memanggil saya dengan nama Athifah Mukminah. Saya memiliki tiga saudara perempuan dan seorang saudara laki-laki yang setiap harinya memenuhi dada saya dengan cinta sehingga saya amat menyayangi mereka. Dan saya memiliki dua orang tua yang amat menyayangi saya, meskipun saat ini saya hanya memiliki ibu dikarenakan pada tahun 2012 ayah saya meninggal dunia, saya mencintai ibu saya yang hebat dan menyayangi ayah saya sebanyak doa yang saya panjatkan untuknya, semoga senantiasa Allah persembahkan tempat terbaik dengan perlindungan terbaik bagi beliau. Saya lahir dan dibesarkan di provinsi paling selatan pulau Sumatra, Lampung tepatnya.
Saya memulai pendidikan formal
saya sejak saya berusia empat tahun di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Fitrah
Insani tak jauh dari rumah saya. Belakangan saya tahu alasan orang tua saya
memilih sekolah Islam untuk pendidikan pertama saya, mereka mau yang pertama
saya kenal dan paham adalah agama saya, pencipta saya. Pada tahun 2001 hingga
tahun 2006 saya mendapatkan pendidikan pada jenjang sekolah dasar di SDN 1
Langkapura. Pada tahun 2006-2009 saya bersekolah di SMPIT Fitrah Insani dan
pada tahun 2010 hingga 2014 saya bersekolah di SMAN 14 Bandar Lampung. Dan pada
tahun 2014 saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas
Indonesia.
Saya adalah anak kedua dari lima bersaudara. Empat anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Saya adalah anak yang paling keras kepala dan berkeinginan keras diantara saudara-saudara saya yang lain. Pada saat ayah saya meninggal dunia, saya bersikeras untuk berenti sekolah demi membantu ibu saya mengurus administrasi kematian ayah saya, saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di tahun kedua. Pada akhirnya saya benar-benar berhenti sekolah selama satu semester. Ketika tidak bersekolah saya sempat bekerja di sebuah konveksi sembari menjalani hobi saya, yaitu menjahit. 3 bulan bekerja, ibu saya bilang pendidikan adalah sebuah bekal yang amat sangat penting, bulan berikutnya saya kembali masuk di sebuah sekolah negri tak jauh dari rumah.
Saya adalah anak kedua dari lima bersaudara. Empat anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Saya adalah anak yang paling keras kepala dan berkeinginan keras diantara saudara-saudara saya yang lain. Pada saat ayah saya meninggal dunia, saya bersikeras untuk berenti sekolah demi membantu ibu saya mengurus administrasi kematian ayah saya, saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di tahun kedua. Pada akhirnya saya benar-benar berhenti sekolah selama satu semester. Ketika tidak bersekolah saya sempat bekerja di sebuah konveksi sembari menjalani hobi saya, yaitu menjahit. 3 bulan bekerja, ibu saya bilang pendidikan adalah sebuah bekal yang amat sangat penting, bulan berikutnya saya kembali masuk di sebuah sekolah negri tak jauh dari rumah.
Saat ini ibu saya memiliki empat
anak yang sedang berkuliah di tempat yang berbeda-beda. Pada awalnya, saya ragu
untuk kuliah dan menetap jauh dari ibu saya, namun pada saat saya ragu ibu saya
berkata, “Ibu ga bisa mewariskan kamu harta yang melimpah, segunung emas, ibu
cuma bisa kasih kamu bekal ilmu, sekolahlah, cari bekallah yang banyak cari
pengalaman dimanapun kamu berada” berbekal pesan ibu saya, kami anak-anaknya
mencari bekal kemanapun sejauh apapun karena kami yakin, satu-satunya harta
kami yang berharga adalah ilmu yang kami punya. Saat ini, kakak tertua saya
menimba ilmu di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Saya di Universitas
Indonesia, Depok, Jawa Barat. Adik pertama saya di Universitas Sriwijaya,
Palembang. Dan adik perempuan saya yang terakhir menimba ilmu di Universitas
Teknologi Sumbawa. Saya tahu tidak mudah mencari biaya untuk keperluan kami
sekeluarga, oleh karena itu saya tanamkan di hati saya bahwa masing-masing kami
adalah benih harta bagi keluarga kami harus di rawat, dipupuk agar tidak mati,
supaya kelak ketika tiba masa meenuai jerih payah luka serta duka ibu saya
terbayarkan sudah.
Terimakasih Atas Ketiadaanmu.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Ku jadi tau cara pasang antena.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Ku jadi tau rasanya nyupir saat yang laen bobo dengan lelapnya.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Ku jadi tau klo macet pegel jempol kakinya >.<
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Kujadi tau bahagianya berhasil nyupir jauuuuuuuh bareng keluarga.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Ku jadi tau klo gas elpiji warna biru itu beratnya luar biasa.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Ku jadi tau ngangkat beras sekarung ternyata lumayan juga.
Terimakasih banyak, bi. Atas kepergiannya.
Terimakasih abi ga pernah mengeluh dan buat aku nyoba sendiri rasain semuanya.
Terimakasih abi mungkin ini belum seberapa.
Untuk semua yang abi lakukan, TERIMAKASIH SEBESAR-BESARNYA.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)







